KEMISKINAN DI INDONESIA
Kemiskinan
sudah bukan kondisi yang asing lagi bagi Negara berkembang seperti Indonesia.
Masih banyak sekali rakyatnya yang hidup di bawah garis kemiskinan, dan hidup
dalam keadaan yang tidak selayaknya. Kondisi yang memprihatinkan inilah yang
membuat para ahli mengkaji banyak hal yang berhubungan dengan masalah
kemiskinan, seperti factor penyebabnya, lapisan masyarakat yang berada di
kondisi tersebut,cara mengatasinya, dan tentunya kajian tersebut melahirkan banyak pengertian kemiskinan menurut para ahli. Pra
pakar di bidang ekonomi banyak yang mengkaji
dan membahas masalah kemiskinan dengan menggunakan istilah standar
hidup, pendapatan, dan distribusi pendapatan yang dilakukan oleh
masyarakat. Para psikolog mengkajinya
dari sisi yang berbeda, yakni stratiffikasi social,kelas, dan marjinalitas
dalam masyarakat. Sedangkan para pengamat social pengkaji kemiskinan dari
tingkat pendapatan, pendidikan, kesehatan, dan kondisi social secara umum.
Pengertian
kemiskinansecara umum adalah keadaan tidak berharta, berpenghasilanrendah, dan
serba kekurangan dalam menjalani kehidupannya sehari-hari. Kemiskinan juga bias
diartikan sebagai suatu situasi, baik berupa proses maupun akibat, dimana
seseorang tidak mampu untuk berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam suatu Negara keadaan miskin bisa diikuti
oleh kondisi yang terbelakang. Keterbelakangan
ini bisa berupa keterbelakangan ekonomi, keterbelakangan
pendidikan,keterbelakangan tegnologi,dan lain sebagainya. Oleh karena itu
kemiskinan dan keterbelakangan bisa dikatakan bisa dikatakan saling
berkaitandan keadaan yang salling bersalamaan. Kedua kondisi tersebut, mampu
membuat manusia merasa lemah secara fisik dan mental sehingga Negara yang
mengalami keduannya harus mampu bangkit dan berkembang untuk terbebas
A.
Pengertian kemiskinan disampaikan oleh beberapa ahli atau lembaga, diantaranya
adalah
1.) BAPPENAS (1993)
mendefisnisikan keimiskinan sebagai situasi serba kekurangan yang terjadi bukan
karena kehendak oleh si miskin, melainkan karena keadaan yang tidak dapat
dihindari dengan kekuatan yang ada padanya.
2.) Levitan (1980)
mengemukakan kemiskinan adalah kekurangan barang-barang dan pelayanan-pelayanan
yang dibutuhkan untuk mencapai suatu standar hidup yang layak.
3.) Faturchman dan Marcelinus Molo (1994)
mendefenisikan bahwa kemiskinan adalah ketidakmampuan individu dan atau rumah
tangga untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.
4.) Menurut Ellis (1994)
kemiskinan merupakan gejala multidimensional yang dapat ditelaah dari dimensi
ekonomi, sosial politik.
5.) Menurut Suparlan (1993)
kemiskinan didefinisikan sebagai suatu standar tingkat hidup yang rendah, yaitu
adanya suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah atau segolongan orang
dibandingkan dengan standar kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat yang
bersangkutan.
6.) Reitsma dan Kleinpenning (1994) mendefisnisikan
kemiskinan sebagai ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhannya, baik
yang bersifat material maupun non material.
7.) Friedman (1979)
mengemukakan kemiskinan adalah ketidaksamaan kesempatan untuk memformulasikan
basis kekuasaan sosial, yang meliptui : asset (tanah, perumahan, peralatan,
kesehatan), sumber keuangan (pendapatan dan kredit yang memadai), organisiasi
sosial politik yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai kepentingan bersama,
jaringan sosial untuk memperoleh pekerjaan, barang atau jasa, pengetahuan dan
keterampilan yang memadai, dan informasi yang berguna.
Dengan beberapa pengertian tersebut dapat
diambil satu poengertian bahwa kemiskinan adalah suatu situasi baik yang
merupakan proses maupun akibat dari adanya ketidakmampuan individu berinteraksi
dengan lingkungannya untuk kebutuhan hidupnya.
B.
Jenis - Jenis Kemiskinan
Ukuran kemiskinan menurut
Nurkse,1953 dalam Mudrajad Kuncoro, (1997) secara sederhana dan yang umum
digunakan dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
1.
Kemiskinan Absolut
Seseorang termasuk golongan miskin
absolut apabila hasil pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan dan tidak
cukup untuk menentukan kebutuhan dasar hidupnya. Konsep ini dimaksudkan untuk
menentukan tingkat pendapatan minimum yang cukup untuk memenuhi kebutuhan fisik
terhadap makanan, pakaian, dan perumahan untuk menjamin kelangsungan hidup.
Kesulitan utama dalam konsep
kemiskinan absolut adalah menentukan komposisi dan tingkat kebutuhan minimum
karena kedua hal tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh adat kebiasaan saja,
tetapi juga iklim, tingkat kemajuan suatu negara, dan faktor-faktor ekonomi
lainnya. Walaupun demikian, untuk dapat hidup layak, seseorang membutuhkan
barang-barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan fisik dan sosialnya.
2.
Kemiskinan Relatif
Seseorang termasuk golongan miskin
relatif apabila telah dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya, tetapi masih
jauh lebih rendah dibandingkan dengan keadaan masyarakat sekitarnya.
Berdasarkan konsep ini, garis kemiskinan akan mengalami perubahan bila tingkat
hidup masyarakat berubah sehingga konsep kemiskinan ini bersifat dinamis atau
akan selalu ada.
Oleh karena itu, kemiskinan dapat
dari aspek ketimpangan sosial yang berarti semakin besar ketimpangan antara
tingkat penghidupan golongan atas dan golongan bawah, maka akan semakin besar
pula jumlah penduduk yang dapat dikategorikan selalu miskin.
3.
Kemiskinan Kultural
Seseorang termasuk golongan miskin
kultural apabila sikap orang atau sekelompok masyarakat tersebut tidak mau
berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari pihak lain
yang membantunya atau dengan kata lain seseorang tersebut miskin karena
sikapnya sendiri yaitu pemalas dan tidak mau memperbaiki kondisinya.
C.
Pola-Pola Kemiskinan
Menurut
Sumitro Djojohadikusumo (1995) pola kemiskinan ada empat yaitu, Pertama adalah
persistent poverty, yaitu kemiskinan yang telah kronis atau turun temurun. Pola
kedua adalah cyclical poverty, yaitu kemiskinan yang mengikuti pola siklus
ekonomi secara keseluruhan. Pola ketiga adalah seasonal poverty, yaitu
kemiskinan musiman seperti dijumpai pada kasus nelayan dan petani tanaman
pangan. Pola keempat adalah accidental poverty, yaitu kemiskinan karena
terjadinya bencana alam atau dampak dari suatu kebijakan tertentu yang
menyebabkan menurunnya tingkat kesejahteraan suatu masyarakat.
Secara
ekonomi, kemiskinan dapat dilihat dari tingkat kekurangan sumber daya yang
dapat digunakan memenuhi kebutuhan hidup serta meningkatkan kesejahteraan
sekelompok orang. Secara politik, kemiskinan dapat dilihat dari tingkat akses
terhadap kekuasaan yang mempunyai pengertian tentang sistem politik yang dapat
menentukan kemampuan sekelompok orang dalam menjangkau dan menggunakan sumber
daya. Secara sosial psikologi, kemiskinan dapat dilihat dari tingkat kekurangan
jaringan dan struktur sosial yang mendukung dalam mendapatkan kesempatan
peningkatan produktivitas.
D.
Ukuran Kemiskinan
Garis
kemiskinan adalah suatu ukuran yang menyatakan besarnya pengeluaran untuk
memenuhi kebutuhan dasar minimum makanan dan kebutuhan non makanan, atau
standar yang menyatakan batas seseorang dikatakan miskin bila dipandang dari
sudut konsumsi. Garis kemiskinan yang digunakan setiap negara berbeda-beda,
sehingga tidak ada satu garis kemiskinan yang berlaku umum. Hal ini disebabkan
karena adanya perbedaan lokasi dan standar kebutuhan hidup.
Menurut
Badan Pusat Statistik (2010), penetapan perhitungan garis kemiskinan dalam
masyarakat adalah masyarakat yang berpenghasilan dibawah Rp 7.057 per orang per
hari. Penetapan angka Rp 7.057 per orang per hari tersebut berasal dari
perhitungan garis kemiskinan yang mencakup kebutuhan makanan dan non makanan.
Untuk kebutuhan minimum makanan digunakan patokan 2.100 kilokalori per kapita
per hari. Sedang untuk pengeluaran kebutuhan minimum bukan makanan meliputi
pengeluaran untuk perumahan, pendidikan, dan kesehatan.
Sedangkan
ukuran menurut World Bank menetapkan standar kemiskinan berdasarkan pendapatan
per kapita. Penduduk yang pendapatan per kapitanya kurang dari sepertiga rata-rata
pendapatan perkapita nasional. Dalam konteks tersebut, maka ukuran kemiskinan
menurut World Bank adalah USD $2 per orang per hari.
BERITA TERKINI
Kemiskinan tahun 2015
JAKARTA.
Angka kemiskinan merupakan suatu tolak ukur pemerintah bisa berhasil atau
tidak. Pemerintah selalu mendengungkan bahwa angka kemiskinan menurun dari
tahun sebelumnya (26/4/2014).
Staf
Khusus Presiden Bidang Ekonomi, Firmanzah mengatakan bahwa tingkat kemiskinan
Indonesia tahun 2014 mencapai 11,6%. Ekonomi Indonesia semakin membaik menjadi
faktornya.
Adanya
perbaikan di berbagai lembaga di Indonesia memberikan kesempatan untuk bangkit.
Peraturan perundang-undangan yang sebelumunya kacau balau mulai tertata lebih
baik dari masa orde baru.
Pernyataan
ini disampaikan Firmanzah di Mega Mendung, Bogor, Jawa Barat. Dia bilang,
stabilitas politik Indonesia membuat akselarasi pembangunan membaik. Akibatnya,
angka kemiskinan di Indonesia ditahun ini menurun dibanding tahun sebelumnya.
"Kecepatan
pertumbuhan ekonomi kelas menengah di Indonesia lebih cepat ketimbang kelas
menengah ke bawah," ujarnya.
Kedepannya
ia berharap angka kemiskinan terus menurun. Dengan harapan Indonesia mampu
menyaingi negara kuat di dunia.
JAKARTA.
Pemerintah tengah menyusun Rancangan Kerja Pemerintah (RKP) 2015. Dalam RKP
2015, kemiskinan ditargetkan mengalami penurunan.
"Target
kemiskinan menurun menjadi 9%-10%," ujar Menteri Perencanaan Pembangunan
Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Armida S Alisjahbana dalam Musrenbangnas di
Jakarta, Rabu (30/4).
Untuk
tahun ini, pemerintah memperkirakan tingkat kemiskinan berada pada kisaran
10,54%-10,75%. Perkiraan tingkat kemiskinan tersebut menghitung pertumbuhan
ekonomi tahun ini pada level 5,8%.
Mengenai
tingkat pengangguran dalam RKP 2015 ditargetkan sebesar 5,7%-5,9%. Adapun untuk
pertumbuhan ekonomi pada tahun 2015 ditargetkan sebesar 5,5%-6,3%. Sedangkan
untuk inflasi diharapkan berada pada kisaran 4,5% plus minus satu.
E.
Faktor Penyebab Kemiskinan
Menurut Sharp (dalam Mudrajad
Kuncoro, 2001) terdapat tiga faktor penyebab kemiskinan jika dipandang dari
sisi ekonomi. Pertama, kemiskinan muncul karena adanya ketidaksamaan pola
kepemilikan sumberdaya yang menimbulkan distribusi pendapatan yang timpang.
Penduduk miskin hanya memiliki sumberdaya yang terbatas dan kualitasnya rendah.
Kedua kemiskinan muncul akibat perbedaan dalam kualitas sumberdaya manusia.
Kualitas sumberdaya manusia yang rendah berarti produktifitanya rendah, yang
pada gilirannya upahnya rendah. Rendahnya kualitas sumberdaya manusia ini
karena rendahnya pendidikan, nasib yang kurang beruntung, adanya diskriminasi
atau keturunan.ketiga kemiskinan muncul karena perbedaan akses dalam modal.
Menurut Rencana Kerja Pemerintah
Bidang Prioritas Penanggulangan Kemiskinan, penyebab kemiskinan adalah pemerataan
pembangunan yang belum menyebar secara merata terutama di daerah pedesaan.
Penduduk miskin di daerah pedesaan pada tahun 2006 diperkirakan lebih tinggi
dari penduduk miskin di daerah perkotaan. Kesempatan berusaha di daerah
pedesaan dan perkotaan belum dapat mendorong penciptaan pendapatan bagi
masyarakat terutama bagi rumah tangga miskin. Penyebab yang lain adalah
masyarakat miskin belum mampu menjangkau pelayanan dan fasilitas dasar seperti
pendidikan, kesehatan, air minum dan sanitasi, serta transportasi. Gizi buruk
masih terjadi di lapisan masyarakat miskin. Hal ini disebabkan terutama oleh
cakupan perlindungan sosial bagi masyarakat miskin yang belum memadai. Bantuan
sosial kepada masyarakat miskin, pelayanan bantuan kepada masyarakat rentan (seperti
penyandang cacat, lanjut usia, dan yatim-piatu), dan cakupan jaminan sosial
bagi rumah tangga miskin masih jauh dari memadai.
F.
Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia
1.) Pemerintah telah mempersiapkan
beberapa program prioritas penanggulangan kemiskinan dalam tahun 2007 didukung
oleh beberapa program prioritas lain, antara lain:
2.) Memberdayakan kelompok miskin
yaitu meningkatkan kualitas sumber daya manusia penduduk miskin dengan
meningkatkan etos kerja, meningkatkan disiplin dan tanggung jawab, perbaikan
konsumsi dan peningkatan gizi, serta perbaikan kemampuan dalam penguasaan
IPTEK.
3.) Menerapkan kebijakan ekonomi
moral yaitu pengembangan sistem ekonomi moral sangat diperlukan sehingga tidak
semata-mata mengejar keuntungan tetapi harus adil, sehingga dibutuhkan keadilan
ekonomi yang bersumber pada Pancasila bukan pada ekonomi modern yang tidak
sesuai dengan budaya bangsa.
4.) Melakukan pemetaan kemiskinan
yaitu langkah awal dalam upaya penanggulangan kemiskinan yaitu mengenali
karakteristik dari penduduk yang miskin sehingga diperlukan pemetaan kemiskinan
yang digunakan sebagai alat untuk memecahkan persoalan yang mereka alami.
5.) Melakukan program pembangunan
wilayah seperti Inpres dan transmigrasi serta memberikan pelayanan perkreditan
melalui lembaga perkreditan pedesaan seperti BKD dan KCK – KUD.